Tradisi BARI'AN Di tengah Ancaman Disintegrasi Bangsa

Opini & Artikel 17 Aug 2026 09:24 3 min read 76 views By admin
Tradisi BARI'AN Di tengah Ancaman Disintegrasi Bangsa
Oleh : MIRWANUDDIN**

‎Di pinggir-pinggir jalan kampung, di bawah lampu bohlam kuning yang berkelip malas, taplak meja plastik digelar. Piring-piring, kertas minyak, dan daun pisang berisikan nasi tumpeng, urap, dan ingkung ayam berjejer rapi. 

‎Orang-orang duduk melingkar, bersila di atas aspal yang mulai dingin. Namanya Bari’an. Tradisi tua yang diruwat dari ingatan kolektif, tempat tetangga bukan lagi sekadar alamat yang berbatas tembok, melainkan sauh yang menahan perahu agar tak hanyut.

‎Di tempat inilah, setiap Agustus menjelang, bangsa merayakan ulang tahunnya. Kali ini, tahun 2026 bari'an yang ke-81. Sebuah usia renta bagi republik yang lahir dari air mata dan pekik revolusi. 

‎Tapi lihatlah peta hari ini. Di ruang-ruang rapat ber-AC sentral, di balik mikrofon mewah yang memantulkan suara para pejabat, kemerdekaan terdengar asing. 

‎Republik ini bising oleh pidato-pidato yang mendengung tentang persatuan, sementara di tanah-tanah pinggiran—dari ujung Aceh hingga pulau-pulau sunyi—bara disintegrasi justru disiram minyak oleh kesewenang-wenangan.

‎Ironi itu terpampang telanjang. Aparatur negara, yang semestinya menjadi perpanjangan tangan ibu pertiwi untuk merangkul, kerap kali menjelma menjadi alat pemukul. 

‎Di panggung-panggung resmi, rakyat tidak lagi disapa sebagai anak kandung yang perlu dibela, melainkan dicurigai sebagai lawan. 

‎Kebijakan lahir dari meja-meja dingin yang nir-empati; hukum tajam ke bawah tapi tumpul di hadapan kuasa. Mereka lupa, atau sengaja melupakan, bahwa kekuasaan itu pinjaman.

‎Maka, di tengah krisis keteladanan para elite yang asyik berpesta di atas kecemasan warga, tradisi Bari'an menemukan kembali takdir profetiknya. 

‎Ia bukan sekadar seremoni makan bersama atau nostalgia masa lampau. Ia adalah perlawanan kultural. Ketika negara gagal merawat keadilan, rakyat di akar rumput mengambil alih tugas sejarah: merajut kembali benang-benang kemanusiaan yang koyak.

‎Kitab suci pernah mengingatkan ribuan tahun silam, agar manusia berpegang teguh pada tali Allah (Ajaran Allah) dan jangan bercerai-berai. 

‎Sang Nabi mengingatkan para penguasa dengan doa yang menggentarkan: siapa yang mempersulit urusan umat, kelak ia akan dipersulit. 

‎Tapi para pejabat di negeri ini tampaknya lebih suka menutup telinga agar menjadi tuli mendadak, membisu, dan membabi_buta. 

‎Mereka memilih sibuk membangun pagar benteng kekuasaan, sementara di luar pagar, rakyat merawat kewarasan dengan cara mereka sendiri.

‎Rakyat duduk bersama di jalanan kampung, menolak tunduk pada perpecahan, dan membuktikan bahwa Indonesia sejati bukanlah gedung-gedung parlemen, melainkan ketulusan tangan tetangga yang saling menguatkan di malam syukuran kemerdekaan.

‎MERDEKA..MERDEKA..MERDEKA.‎Wallahu a'lamu bis_shawaab.

‎*)Penulis adalah pembelajar pada lingkar diskusi terbatas (limited group) kajian Al_Qur'an berbasis Ilmu 'Alat. Alumni IMM FISIP Unmuh Malang.