Cinta Merdeka dan Anti Penjajahan

Opini & Artikel 17 Aug 2026 08:36 2 min read 33 views By Udin Syam
Cinta Merdeka dan Anti Penjajahan
Oleh " MIRWANUDDIN*

‎MERDEKA bukan sekadar kata yang diteriakkan serak di pinggir jalan setiap tanggal tujuh belasan, atau seremonial bendera yang dikerek naik dengan iringan paduan suara. 

‎Di dalam kamus batin Al-Qur'an, kata itu diperlukan pada tahrir—sebuah wazan taf'il dalam ilmu sharaf yang menyaratkan kerja berat, sistemik, dan terus-menerus (lil mubalaghah).

‎Ia bukan hadiah yang jatuh dari langit, melainkan proses pembebasan leher dari cekikan rantai. Dan jika ditarik garis lurus secara teologis, ia bermuara pada formula kuno yang keras kepala: "yakfur bil-thaghut wa yu'min billah".

‎Diikuti para pendiri Republik—para pemikir yang gelisah di kamar-kamar kos Batavia, menyerap ayat-ayat Tuhan sekaligus memikirkan nasib bangsanya—menulis manifesto agung yang kita kenal sebagai Pembukaan UUD 1945. 

‎Ketika mereka menolak penjajahan di muka bumi, mereka sebenarnya sedang menulis dan mewujudkan tafsir politik atas sikap "yakfur bil-thaghut". Sebab penjajahan, dalam wujud apa pun, adalah bentuk paling telanjang dari thaghut, suatu kekuatan tiran yang merampas kemanusiaan, mencuri kedaulatan, dan memaksa manusia berlutut di bawah telapak kaki sesamanya.

‎Namun, sejarah kerap berputar dengan ironi yang menggelisahkan. Hari ini, bangsa yang merdeka secara teritorial sering kali dicakup sebagai "bangkai hidup"—tubuhnya bernapas, tangannya memegang gawai tercanggih, tetapi alarm telah lama takluk pada rente, suap, dan ketergantungan asing. 

‎Kita menolak serdadu berlaras meriam, tapi membiarkan penjajah digital, asiduitas ekonomi yang merusak, dan mentalitas budak merangsek masuk ke ruang tamu rumah kita tanpa perlawanan.

‎Sebagaimana diingatkan Prof. Buya Hamka, tauhid yang murni melahirkan keberanian mutlak; seorang yang beriman tidak akan sudi tunduk kepada selain Allah. 

‎Jika kita lupa cara menolak thaghut dan berhenti merawat ruh konstitusi itu, maka kita tidak sedang merayakan kemerdekaan, melainkan sedang menunggu waktu untuk kembali ke raja di atas tanah air sendiri. Atau, NKRI yang kita cintai akan terkoyak dari dalam. ‎Wallahu a'lamu bis_shawaab.

‎*)Penulis adalah pembelajar pada diskusi diskusi terbatas (limited group) kajian Al_Qur'an berbasis Ilmu 'Alat. Alumni IMM FISIP Unmuh Malang.