Sosok Ji Her Siapa dan Bagaimana Beliau Berikut Penjelasannya

Terkini 09 Aug 2026 08:29 5 min read 168 views By Udin Syam
Sosok Ji Her Siapa dan Bagaimana Beliau Berikut Penjelasannya
Penulis : Arai Chafidz Ach Thohir Muhyiddin Muclaz Dimas Saiful Ulum Dwysa

Di Madura, orang mengenalnya dengan panggilan sederhana: Ji Her. Kependekan akrab dari Haji Her. Nama lengkapnya H. Khairul Umam, pengusaha asal Pamekasan yang namanya tumbuh bersama tembakau—komoditas yang bagi sebagian orang mungkin hanya isi rokok, tetapi bagi ribuan keluarga Madura adalah biaya sekolah, beras di dapur, bahkan biaya menikahkan anak.

Haji Her lahir di Pamekasan pada 25 November 1981. Riwayat pendidikannya melewati SDN Kadur 01, pendidikan madrasah di Al-Falah Sumber Gayam, kemudian SMP dan MA di lingkungan yang sama, sebelum melanjutkan kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang. Ketika mahasiswa, naluri dagangnya sudah muncul. Ia pernah berjualan peralatan dapur dan menjadi sales. Dari sana ia masuk perlahan ke dunia tembakau: membawa sampel ke gudang-gudang, menjadi perantara, sampai akhirnya sekitar 2008 mulai membeli tembakau langsung dari petani.

Kemudian lahirlah Bawang Mas Group. Haji Her menjadi CEO perusahaan yang bergerak di industri tembakau dan rokok. Namanya makin besar, tetapi yang membuat namanya melekat di masyarakat bukan hanya pabriknya.

IA MASUK KE PERSOALAN YANG LEBIH RUMIT: NASIB PETANI TEMBAKAU.

Sejak 2022, Haji Her memimpin Paguyuban Pelopor Petani dan Pedagang Tembakau Madura (P4TM). Ia berkali-kali bersuara mengenai harga tembakau dan kebijakan pemerintah yang menurutnya dapat merugikan petani. Ia pernah mendorong penanaman varietas tembakau tertentu untuk meningkatkan kualitas, berbicara dalam berbagai forum, menemui tokoh agama, dan menyuarakan keberatan terhadap regulasi yang dinilainya berpotensi menekan industri tembakau serta kehidupan petaninya.

Bahkan sebuah kajian akademik tentang perdagangan tembakau Madura mencatat betapa nama Haji Her muncul berulang kali dalam percakapan petani maupun di media sosial lokal. Dalam penelitian itu ia digambarkan bukan sekadar pedagang, tetapi juga figur yang melakukan lobi dan menyuarakan kepentingan petani.

Pada 2025, detikJatim menulis mengenai pola pembelian yang dikembangkan P4TM: memotong sebagian rantai perantara dan membeli tembakau dengan harga dasar tertentu untuk memberikan posisi yang lebih baik kepada petani.

Di sisi lain ada Haji Her yang dikenal karena kegiatan sosialnya. Pemberitaan menyebut pembangunan lebih dari seribu rumah sederhana bagi warga kurang mampu. Namanya juga pernah menjadi perhatian nasional ketika video Gus Miftah membagikan uang kepada masyarakat viral; uang yang dibagikan tersebut diberitakan berasal dari Haji Her.

Dan di zaman sekarang, orang dengan karakter seperti Ji Her memang mudah sekali menjadi "makanan" media sosial.

Ia ekspresif. Bicaranya spontan. Bahasa Maduranya terasa dekat. Tidak terlalu sibuk menyusun kalimat supaya terdengar seperti pidato pejabat. Potongan video ceramah, sambutan, guyonan, bantuan sosial, urusan petani sampai pertemuannya dengan tokoh-tokoh beredar dari satu akun ke akun lainnya.

ITULAH KEKUATAN MEDIA SOSIAL SEKALIGUS BAHAYANYA.

Orang yang banyak bicara di depan kamera mempunyai kemungkinan lebih besar suatu hari mengatakan sesuatu yang seharusnya berhenti di dalam kepala.

DAN ITU AKHIRNYA TERJADI 

Pada peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 di Pamekasan, 21 Juli 2026, Haji Her berbicara mengenai dukungannya kepada Khofifah Indar Parawansa. Di depan publik ia menyatakan dirinya pernah menghabiskan sekitar Rp38 miliar untuk mendukung Khofifah dalam Pilgub Jawa Timur. Ia mengatakan dukungan tersebut dilatarbelakangi kekagumannya kepada Khofifah dan menegaskan tidak meminta proyek atau keuntungan pribadi sebagai imbalannya.

KALIMAT ITU KEMUDIAN TERBANG 

Dan kita tahu sifat kalimat pada zaman media sosial: mulut hanya membutuhkan beberapa detik untuk mengeluarkannya, internet dapat menyimpannya bertahun-tahun.

Video tersebut menjadi polemik. Orang mulai mempertanyakan angka Rp38 miliar itu, penggunaannya, kaitannya dengan kampanye, serta kesesuaiannya dengan pelaporan dana politik. Bahkan muncul desakan dari sejumlah pihak agar persoalan tersebut ditelusuri. Itu belum berarti tuduhan-tuduhan yang muncul otomatis benar.

Klaim politik, pelanggaran aturan, dan kemungkinan konsekuensi hukumnya tetap harus dibuktikan melalui data dan lembaga yang berwenang.

Menariknya, Haji Her sendiri kemudian tidak menyangkal bahwa perkataannya memang telanjur keluar.

IA MENYEBUTNYA "KECEPLOSAN"

Dalam klarifikasinya, ia mengatakan perkataan tersebut spontan dan tidak disiapkan dalam skenario pembicaraan. Ia juga kembali menegaskan bahwa dirinya tidak meminta kepentingan pribadi atau jabatan sebagai imbalan, serta menyatakan siap jika harus diperiksa.

Di sinilah kisah Ji Her menjadi menarik, bahkan di luar urusan politiknya. Sebab kita sedang melihat paradoks orang yang terbiasa berbicara apa adanya.

Kejujuran spontan kadang membuat seseorang dicintai. Orang merasa tidak sedang mendengarkan teks buatan staf ahli. Tidak ada teleprompter dalam kepalanya. Yang ada mulut yang berjalan hampir bersamaan dengan pikiran.

Tetapi spontanitas mempunyai harga. Semakin besar seseorang, semakin mahal harga satu kalimatnya.

Ketika orang biasa keceplosan di warung kopi, paling-paling lima orang mendengar. Ketika orang terkenal keceplosan sambil memegang mikrofon, ribuan kamera telepon siap menjadi saksi. Beberapa menit kemudian TikTok, Instagram, Facebook dan grup WhatsApp bekerja sebagai kantor berita tanpa pemimpin redaksi.

Maka perjalanan Ji Her sebenarnya bukan cuma cerita seorang pengusaha tembakau yang menjadi kaya.

Ia adalah cerita tentang seorang pedagang yang kemudian masuk ke wilayah sosial, petani, pesantren, kebijakan publik, politik dan media sosial sekaligus.

Ada orang mengenalnya karena Bawang Mas. Ada yang mengenalnya karena harga tembakau. Ada yang mengenalnya karena rumah-rumah yang dibangunnya untuk masyarakat miskin. Ada yang mengenalnya dari video bagi-bagi uang. Dan sekarang ada pula yang mengenalnya gara-gara angka Rp38 miliar.

BEGITULAH DUNIA DIGITAL 

Seribu kebaikan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dikerjakan. Satu kalimat hanya membutuhkan beberapa detik untuk mengubah percakapan tentang seseorang.

Karena itu barangkali pelajaran terbesar dari Ji Her bukan tentang Rp38 miliarnya. Melainkan tentang rem.

Mobil semahal apa pun membutuhkan rem. Orang sepintar apa pun membutuhkan jeda. Dan orang yang mempunyai uang, pengaruh, pengikut serta mikrofon justru membutuhkan rem yang jauh lebih pakem.

Sebab setelah menjadi tokoh publik, yang perlu dijaga bukan hanya isi dompet. Isi pembicaraannya kadang jauh lebih mahal. (*).