Refleksi Kemerdekaan Itu Tak Pernah Ada

Opini & Artikel 17 Aug 2026 14:00 3 min read 40 views By Udin Syam
Refleksi Kemerdekaan Itu Tak Pernah Ada
Oleh : Dr. Aries Harianto, S.H.,M.H.,C.Med, Akademisi FH Universitas Jember

KEMERDEKAAN memang tidak pernah ada. Hanya teriak merdeka dan lagu kemerdekaan. Itupun disuarakan dalam tertib barisan. Pada perayaan yang populis disebut Tujuhbelasan. Digelar di pelosok kampung hingga lingkungan perumahan. Diikuti mulai anak-anak hingga dewasa. Laki-laki dan perempuan. Komplit dengan acara tasyakur dan resepsi. Mengakhiri aneka lomba dan permainan yang mendulang tawa sekaligus berbagi hadiah. Di negeri yang surplus perayaan dan minus pemikiran, tiap tahun selalu muncul pertanyaan : Sudahkah kita merdeka ? Ada yang menjawab, sudah. Sementara lainnya mengatakan, belum sepenuhnya. 

Independence Day, demikian masyarakat internasional menyebut Hari Kemerdekaan. Konsep independen, pada hakikatnya tidak pernah dan tidak akan pernah ada tanpa dependensi. Manusia tetap butuh sesama. Bernegara tak lepas dari bantuan negara lain. Zoon Politicon, Aristoteles menyebutnya. Independensi tetap harus beriringan dengan dependensi. Mereka yang menjawab sudah merdeka, berkonotasi pada makna bebas dari penjajah. Lahir Indonesia sebagai subjek hukum internasional. Berdaulat atas dirinya. Kemerdekaan dalam hal ini tak lebih sebatas deklarasi, belum menyentuh esensi. Apalagi Aceh beriak. NTT korban berserak.

Manusia acapkali terjebak dalam persepsi. Kemerdekaan berarti bebas dari penjajahan. Padahal penjajahan hanya berganti lakon. Ekploitatif, penetrasi dalam beragam varian dan bentuk. Komunitas tentu tidak bisa melepaskan dari semua itu. Kapanpun dan di manapaun. Betapa sulitnya manusia terbebas dari belenggu pikiran negatif. Kecemasan, ketakutan, kegagalan, penilaian pihak lain, rasa tidak percaya diri seperti atmosfir di sekitar. Selalu was-was setiap pengambilan keputusan. Hamka dalam bukunya, Tasawuh Modern selalu menasihati dirinya melalui buku yang ditulisnya untuk belajar merdeka. 

Islam mengajarkan, kemerdekaan yang hakiki terletak pada pembebasan diri. Pembebasan dari segala bentuk penghambaan kepada selain Allah. Di dalamnya mencakup pembebasan dari dominasi nafsu, godaan syaitan, dan ketergantungan duniawi. Kemerdekaan sejati adalah ketika seorang hamba mencapai tingkat kebebasan spiritual yang hanya tunduk kepada-NYA. Menjalankan amanah, mengedepankan rasa tanggung jawab, ikhlas melayani. Tauhid. 

Ketika Tauhid menjadi prinsip dasar maka hakikat kemerdekaan adalah ketidakmerdekaan itu sendiri. Dalam arti, keberadaan manusia selalu terikat dengan relasi insan dan khalik. Berdasarkan keterikatan dimaksud maka kebebasan yang kita miliki adalah kebebasan dalam persemaian-NYA. Jadi kemerdekaan tersebut tidak berarti kebebasan yang menegasikan nilai. Dengan Tauhid yang melekat pada diri ini pada gilirannya memandu manusia untuk menggeleng terhadap hegemoni apapun yang tidak berkonotasi lillaahi ta’ala, namun tidak ada ruang mengatakan ’Tidak’ kepada Tauhid itu sendiri. Karena itu istilah kemerdekaan sesungguhnya berseberangan dengan Tauhid. So, kemerdekaan itu pada dasarnya tidak pernah ada. Bahkan DIA tak menghendakinya. Termasuk pada sang atheis sekalipun yang selama ini lantang teriak merdeka. Keberadaannya tidak pernah merdeka. (*).