Pelantikan GP Ansor Lumajang : Sinergi Tanpa Kehilangan Marwah Dan Jati Diri

Opini & Artikel 09 Aug 2026 15:41 4 min read 104 views By Udin Syam
Pelantikan GP Ansor Lumajang : Sinergi Tanpa Kehilangan Marwah Dan Jati Diri
Oleh : SYAMSUDIN NABILAH*

HARI Sabtu, 9 Agustus 2026 menjadi momen bersejarah bagi Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Lumajang. Di Pendopo Kabupaten, dilantiknya kepengurusan baru PC GP Ansor Lumajang periode 2026–2030 di bawah pimpinan Gus Izuddin Syarif.

Suasana pelantikan terasa hangat dan penuh harapan, dihadiri langsung oleh Bupati Lumajang Indah Amperawati, Wakil Bupati Mas Yudha, 21 Ketua PAC, serta 205 Ketua Ranting se-Lumajang. Berbagai media online memberitakan momen ini, membawa pesan-pesan kunci yang disampaikan oleh Ketua baru maupun pimpinan daerah.

Gus Izuddin Syarif menegaskan satu hal yang mendasar: “Kalau tidak penolong, jangan namanya Ansor. Berarti bukan Ansor kalau tidak penolong.” Ia juga menegaskan Ansor tidak sekadar menjadi organisasi dengan nama dan atribut semata, melainkan hadir melalui tindakan nyata.

Dua pilar utama yang ditawarkan adalah Patriot Ketahanan Pangan dan penguatan Badan Usaha Milik Ansor untuk kesejahteraan masyarakat. Sebuah visi yang sangat relevan dengan tantangan masa kini, patut kita apresiasi setinggi-tingginya.

Namun, di tengah semangat bersinergi dengan pemerintah daerah yang juga disambut hangat oleh Bupati dan Wakil Bupati, ada hal penting yang perlu kita tegaskan bersama - kebersamaan dan dukungan terhadap pemerintah tidak boleh membuat Ansor kehilangan keberanian untuk melakukan kritik yang membangun.

Sebagai organisasi yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama, Ansor memiliki landasan ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) yang jelas. Seperti tertuang dalam tulisan di nu.online.id, Aswaja membawa konsep tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan yang paling esensial amar ma'ruf nahi mungkar — mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Artinya, menjadi mitra pemerintah bukan berarti menanamkan budaya “ABS" (Asal Bupati Senang). Bukan berarti kita diam saja ketika melihat ada kebijakan yang kurang tepat sasaran, kurang adil, atau bahkan merugikan masyarakat.

Kita harus berpegang pada prinsip “Qulil Haq Walau Kaana Murron” — Mengatakan yang benar itu benar meskipun terasa pahit, dan katakan yang salah itu salah, lalu luruskanlah. Ansor harus berani menyampaikan kepada Bupati dan Wakil Bupati secara santun namun tegas jika ada kebijakan yang perlu diperbaiki.

Sebaliknya, jika kebijakan pemerintah sudah benar dan bermanfaat, Ansor wajib mendukung sepenuhnya agar kebijakan itu berhasil membawa kesejahteraan. Di situlah marwah dan kehormatan Ansor sesungguhnya terjaga.

Kembali ke semangat Gus Izuddin agar Ansor selalu menjadi penolong bagi yang membutuhkan. Gagasan ini sangat mulia dan saya sepenuhnya setuju.

Namun ada pertanyaan mendasar yang perlu direnungkan bersama, bagaimana Ansor bisa secara maksimal membantu masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi, jika secara internal organisasi, pengurus, dan anggotanya sendiri belum kuat dan mandiri secara ekonomi?

Penguatan perekonomian internal tidak dapat ditunda. Bisa saja dilakukan beriringan dengan kegiatan sosial kemasyarakatan sambil bergerak membantu warga, kita juga membangun kemandirian ekonomi kader melalui Badan Usaha Milik Ansor yang diseriusi.

Jangan sampai kita sibuk terlihat mengajak orang lain sejahtera, padahal di lingkungan internal kita sendiri masih banyak kader yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasarnya. Kuatkan fondasi rumah kita sendiri, barulah kita bisa kokoh membantu memperbaiki rumah tetangga.

Terkait ajakan Bupati Indah Amperawati agar Ansor ikut mendorong perkembangan pariwisata Lumajang, termasuk memaksimalkan potensi Tumpak Sewu yang menjadi penyumbang PAD terbesar, hal itu tentu saja bisa dilakukan.

Namun penulis ingin sampaikan pandangan lain, bahwa Ansor tidak harus sekadar ikut masuk ke jalur yang sudah dilalui pemerintah. Justru yang lebih dinanti adalah gagasan, gebrakan, dan terobosan khas Ansor yang berbeda, namun tujuannya tetap sama yakni memajukan Lumajang secara utuh, bukan hanya dari sisi wisata semata.

Sinergi bukan berarti menelan mentah-mentah program yang sudah ada, melainkan melengkapi dengan solusi lain yang mungkin belum terpikirkan, yang lebih menyentuh akar masalah kesejahteraan rakyat, ketahanan pangan, pendidikan karakter pemuda, hingga pemberdayaan ekonomi akar rumput.

Biarkan pariwisata diurus oleh pihak yang memang memiliki fokus khusus di sana, sementara Ansor membawa perubahan lewat jalur yang khas. Jalur pemuda yang peduli pada aspek sosial, kerakyatan ekonomi, dan nilai-nilai luhur kebangsaan serta keagamaan.

Pelantikan Gus Izuddin Syarif dan susunannya adalah lembaran baru. Kita berharap Ansor Lumajang di periode ini benar-benar menjadi rumah yang hidup bagi para pemuda, menjadi penolong yang nyata bagi masyarakat, menjadi mitra yang setara bagi pemerintah, sekaligus menjadi pengawas yang tegas namun santun.

Tetaplah tawasuh dalam momen, tasamuh dalam menyikapi perbedaan, tawazun dalam mengambil keputusan, dan jangan pernah lupa untuk selalu amar ma'ruf nahi mungkar.

Selamat berkarya Pengurus PC GP Ansor Lumajang yang baru! Buktikan: “Ansor Penolong, Ansor Bekerja, Ansor Mengawal.” Proud of  You Ansor Lumajang.

*)Penulis : Alumni Ponpes Annuqayah Guluk-guluk Sumenep. Mantan Ketum HMI Cabang Jember Komisariat Sastra UNEJ. Jurnalis - Penulis Lepas